Patani

BRN sesalkan atas penundaan perundingan damai, seharusnya lebih serius

BRN Criticizes Thailand's Decision to Delay Peace Talks

Malaysia, 29 Juli, 2026 - Patani Pihak Barisan Revolusi Nasional (BRN) Patani menyesalkan keputusan ketua panel Dialog Pemerintah Thailand yang disampaikannya melalui media pada 28 juli 2026, ketua Panel Dialog Pemerintah Thailand menyampaikan Keputusan penundaan dialog pada September 2026 atas dasar peristiwa penyerangan di Narathiwat pada minggu lalu.
Pihak sekretariat Perundingan BRN juga menjawab atas pernyataan “mengapa memulai insiden kekeras ?, menurut pihak secretariat perundingan BRN,”insiden tersebut bukanlah sebuah Tindakan yang tanpa dasar atau sembrono sebagaimana yang sering digambarkan oleh pihak tantara dan pemerintah Thailand”.

“kami sampaikan bahwa Tindakan pejuang BRN hanyalah menjawab atas perilaku apparat tantara Thailand saat melakukan operasi. Pejuang BRN memandang perilaku tentara Thailand dalam operasinya seperti melakukan pengepungan, penahanan secara paksa, dan pelanggaran Hak Azasi Manusia pada rakyat Patani terus dilakukan”

Maka, perlu kami sampaikan juga bahwa “kondisi diatas pejuang BRN mempunyai tanggung jawab moral untuk membela dan melindungi rakyat kami, tentunya kami memiliki hak yang sah sebagai legitimate rights untuk membela diri, mempertahankan nyawa, harga diri dan Marwah bangsa kami”

Read More: BRN nyatakan Konflik Masih Berlanjut, Negosiasi Damai Jalan Penyelesaiaannya

“Keamanan tidak boleh ditafsirkan sebagai penyerahan mutlak pihak kami di saat pihak berkuasa terus menjalankan kekerasan di seluruh negeri Patani,”tegas pihak secretariat Dialog BRN

BRN Kecewa dilakukan penundaan

Pihak BRN juga menyampaikan kekecewaannya atas kebijakan penundaan kelanjutan perundingan pada September 2026 kedepan, apalagi alasannya didasari oleh insiden Narathiwat, sangat kurang tepat alasannya

“semestinya, political will yang sudah ditunjukkan selama ini, harus terus dikuatkan meskipun adanya insiden seperti insiden Narathiwat, justeru semakin meningkat insiden, maka perundingan perlu dikuatkan dan diseriuskan, karena dialog menjadi ruang komunikasi kedua pihak untuk mengurangi insiden dan bahkan mendapatkan Solusi penyelesaiannya”
Kami dari BRN, justerus berpandangan proses damai yang kuat dan tahan uji sepatutnya mampu mengedepankan dan menyelesaikan persoalan lapangan, bukan pula dihentikan setiap kali halangan.

BRN Kecewa dilakukan penundaan

Pihak BRN juga menyampaikan kekecewaannya atas kebijakan penundaan kelanjutan perundingan pada September 2026 kedepan, apalagi alasannya didasari oleh insiden Narathiwat, sangat kurang tepat alasannya
“semestinya, political will yang sudah ditunjukkan selama ini, harus terus dikuatkan meskipun adanya insiden seperti insiden Narathiwat, justeru semakin meningkat insiden, maka perundingan perlu dikuatkan dan diseriuskan, karena dialog menjadi ruang komunikasi kedua pihak untuk mengurangi insiden dan bahkan mendapatkan Solusi penyelesaiannya”

Kami dari BRN, justerus berpandangan proses damai yang kuat dan tahan uji sepatutnya mampu mengedepankan dan menyelesaikan persoalan lapangan, bukan pula dihentikan setiap kali halangan.
Jadi, “Penangguhan sepihak ini hanya memperlihatkan komitmen pihak Thailand dalam mencari jalan penyelesaian yang tulus belumlah kuat”, sebut jubir delegasi Dialog BRN

Checkpoints dalam Kawasan pemukiman

BRN juga protes atas mendirikan pos-pos pemeriksaan dan pangkalan militer dalam Kawasan pemukiman. Tindakan ini bentuk menjadikan penduduk tempatan sebagai 'perisai manusia' (human shields) di tengah-tengah zona konflik. Sewajarnya, demi mematuhi prinsip kemanusiaan dan hak azasi manusia serta hukum antarabangsa, pos-pos tersebut harus segera dipindahkan ke lokasi yang jauh dari penempatan warga bagi menjauhkan risiko korban Masyarakat akibat pertempuran.

Untuk itu, pihak Sekretariat Rundingan Damai BRN, dengan dukungan penuh dari seluruh sayap perjuangan, sentiasa berusaha mencari jalan penyelesaian yang bermartabat di meja perundingan”.
Kami kuat komitmen terhadap Proses Dialog Keamanan. Namun, kami menuntut agar perundingan tersebut dijalankan dengan prinsip kesaksamaan, kejujuran, dan rasa hormat yang timbal balik. Dialog tidak seharusnya dijadikan sekadar taktik menghabiskan waktu namun perubahan tidak terjadi di Patani. Patani.

Terakhir, pihak BRN meminta agar kita Kembali ke meja perundingan, karena dialog merupakan jalan untuk menemukan Solusi dan kesepakatan bersama, sebagai bangsa Patani, tentunya kami ingin mendapatkan keadilan, kedaulatan atas pengelolaan negeri Patani, dan kami ingin mewujudkan kesejahetraan rakyat Patani yang merata dan adil”

Shares:
Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *