{"id":216,"date":"2026-06-10T17:35:08","date_gmt":"2026-06-11T00:35:08","guid":{"rendered":"https:\/\/pamorte.com\/?p=216"},"modified":"2026-06-10T17:35:08","modified_gmt":"2026-06-11T00:35:08","slug":"timor-leste-twenty-five-years-of-freedom-and-the-pursuit-of-justice","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pamorte.com\/id\/read\/timor-leste-twenty-five-years-of-freedom-and-the-pursuit-of-justice\/","title":{"rendered":"Wajah Kebebasan Timor Leste"},"content":{"rendered":"<p>Timor Leste merdeka pada tahun 20 Mei 2002, dan kini menjadi negara yang berkedaulatan dan terbebaskan dari kolonialisme. Rakyat Timor Leste telah berjuang panjang, berjuang mengusir Portugis dari bumi Lorosae selama 450 tahun (1519-1975). Selanjutnya perjuangan dilanjutkan melawan invasi Negara Republik Indonesia di tahun 1975 dan Timor Leste merdeka seutuhnya setelah Referendum pada 30 Agustus 1999. Jadi, rakyat Timor Leste telah merasakan kepahitan dan kegelapan. Namun tahun 2002, akhirnya mereka mendapatkan kebebasan, kemerdekaan dan kedaulatan penuh.<\/p>\n<p>Saya, Juanda Djamal, memiliki kesempatan berkunjung ke Timor Leste mulai tahun 2024, 2025 dan terakhir April 2026. Saya ingin melihat langsung, menilai dan mempelajari perasaan dan perilaku rakyat Timor Leste setelah hidup dalam kemerdekaan 25 tahun terakhir.<\/p>\n<p>Aceh dan Timor Leste, keduanya memiliki latar belakang konflik bersenjata yang sama, masing-masing wilayah ini memperjuangkan hak-hak untuk menentukan nasibnya sendiri(self-determination rights), harkat, martabat, identitas dan kedaulatannya demi menjalankan pemerintahan sendiri secara mandiri dan berkeadilan.<\/p>\n<p>Namun demikian, keduanya memperoleh hasil yang berbeda, Timor Leste meraih kemerdekaannya secara penuh dan menyelenggarakan tatanan negara baru. Sedangkan Aceh, perjuangannya hanya berakhir pada kesepakatan politik di Helsinki 15 Agustus 2005, dengan status otonomi khusus dan menjalankan pemerintahan yang didasari pada undang-undang No.11 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Aceh.<\/p>\n<p><strong>Tata Kelola Pemerintahan<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_221\" aria-describedby=\"caption-attachment-221\" style=\"width: 1022px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-221 size-full\" src=\"https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48.webp\" alt=\"Juanda Djamal with East Timor\u2019s first Prime Minister, Mari Al Katiri. | Photo courtesy of PUNCA.CO\" width=\"1022\" height=\"630\" srcset=\"https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48.webp 1022w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-300x185.webp 300w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-200x123.webp 200w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-768x473.webp 768w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-18x12.webp 18w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-480x296.webp 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 1022px) 100vw, 1022px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-221\" class=\"wp-caption-text\">Juanda Djamal with East Timor\u2019s first Prime Minister, Mari Al Katiri. | Photo courtesy of PUNCA.CO<\/figcaption><\/figure>\n<p>Paska kemerdekaan, pernah terjadi dua kali konflik internal, tahun 2006 karena 600 militer Timor yang berasal dari wilayah barat merasa ter-diskriminasi dalam F-DTL yang berakibat mundurnya Perdana Mentri Mari Al katiri. Selanjutnya tahun 2008 Mayor Alfredo Reinado yang melarikan diri pada peristiwa 2006 kemudian melakukan pemberontakan dengan menyerang rumah Ramos Horta dan Xanana Gusmao. Mayor Alfreido berhasil ditembak mati, sehingga mengakhiri krisis internal.<\/p>\n<p>Timor Leste menyelenggarakan Pemerintahan sebagai Negara yang Merdeka, dengan sistem pemerintahan Republik semi-presidensial yang demokratis. Dimana Presiden bertindak sebagai Kepala Negara, memiliki kuasa simbolis pemersatu, menjaga perlembagaan, hak veto undang-undang dan panglima tertinggi militer (Pasal 74 ayat 1). Presiden dipilih langsung oleh rakyat, dua kali jabatan dan tidak boleh mencalonkan diri kembali.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan yang mengepalai para kabinet dan menjalankan pemerintahan harian. Penetapan Perdana Menteri melalui partai pemenang mutlak atau koalisi mayoritas.<\/p>\n<p>Kemudian, Parlemen Nasional merupakan badan perundangan satu pintu (unicameral) yang dipilih melalui pemilihan partai, dengan total anggota 65 orang, yang ditempatkan oleh partai yang memperoleh 3 % suara sah. Pada pemilu 2023 terdapat 17 partai politik namun hanya 5 partai terkuat yaitu CNRT 42 %, Fretilin 26 %, Partai Demokrat, Khunto dan PLP.<\/p>\n<p>Parlemen Nasional berfungsi sebagai badan legislatif yang bersistem satu kamar. Para anggotanya dipilih melalui sistem daftar partai, dengan total 65 kursi yang dialokasikan kepada partai-partai politik yang memperoleh setidaknya 3 persen suara sah. Pada pemilu 2023, 17 partai politik ikut serta dalam pemilu, meskipun hanya lima yang muncul sebagai kekuatan terkuat: CNRT dengan 42 persen suara, Fretilin dengan 26 persen, diikuti oleh Partai Demokrat, Khunto, dan PLP.<\/p>\n<p>Pembagian wilayah meliputi 14 distrik\/municipal termasuk wilayah khusus administrative Oucusse-Ambeno, 67 sub-distrik, dan sekitar 298 suco\/desa.<\/p>\n<p><strong>Wajah \u201ckebebasan\u201d Timor Leste<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_220\" aria-describedby=\"caption-attachment-220\" style=\"width: 688px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-220 size-full\" src=\"https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1.webp\" alt=\"Juanda Djamal chatting with the people of East Timor. | Photo courtesy of PUNCA.CO\" width=\"688\" height=\"416\" srcset=\"https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1.webp 688w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1-300x181.webp 300w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1-200x121.webp 200w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1-18x12.webp 18w, https:\/\/pamorte.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-04-24-at-11.34.48-1-480x290.webp 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 688px) 100vw, 688px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-220\" class=\"wp-caption-text\">Juanda Djamal chatting with the people of East Timor. | Photo courtesy of PUNCA.CO<\/figcaption><\/figure>\n<p>Suatu kali, saat sedang menikmati air kelapa segar di sebuah sudut kota Dili, saya berbincang dengan seorang nelayan yang baru saja pulang dari laut.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana rasanya menikmati kebebasan?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p>Pria yang memperkenalkan diri sebagai Antonio itu menjawab, \u201cKami sudah terbebas dari rasa takut sekarang. Kami mungkin masih miskin, tapi kami bahagia. Pemerintah Timor-Leste sangat peduli terhadap rakyatnya. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis.\u201d<\/p>\n<p>Antonio mengatakan bahwa ia pernah menempuh pendidikan di Surabaya, tetapi tidak menyelesaikannya karena ia kembali ke kampung halamannya untuk ikut serta dalam referendum 30 Agustus 1999.<\/p>\n<p>Pada tahun-tahun awal kemerdekaannya, Timor-Leste dihadapkan pada pertentangan internal yang cukup serius. Namun, berkat adanya pemahaman bersama yang kuat mengenai agenda nasional yang lebih luas, ketegangan-ketegangan tersebut pada akhirnya dapat diatasi.<\/p>\n<p>Pemerintahan pertama di bawah kepemimpinan Presiden Xanana Gusm\u00e3o dan Perdana Menteri Mari Alkatiri berhasil menetapkan kerangka kerja pembangunan negara yang jelas. Visi mereka sangat erat kaitannya dengan gagasan-gagasan politik yang telah mereka kembangkan selama bertahun-tahun saat melakukan perlawanan gerilya dan upaya diplomatik di luar negeri. Khususnya bagi Mari Alkatiri, tujuan utamanya adalah membangun sebuah negara yang merdeka, berdaulat, dan adil bagi seluruh warga Timor.<\/p>\n<p>Salah satu prioritas utama adalah pembentukan lembaga-lembaga yang mampu menjaga stabilitas keuangan dan moneter negara. Sebagai negara yang baru merdeka, Timor-Leste menyadari bahwa kesalahan kebijakan dapat menimbulkan risiko tinggi terjadinya kegagalan ekonomi. Salah satu langkah mendasar yang diambil adalah pengamanan pendapatan yang dihasilkan dari sumber daya minyak dan gas di Laut Timor, yang saat itu dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Australia.<\/p>\n<p>Salah satu kebijakan utama yang diperkenalkan oleh Mari Alkatiri adalah pembentukan Dana Minyak dan Gas (PF). Saat ini, lembaga tersebut berfungsi sebagai dana kekayaan negara Timor-Leste, yang dibiayai melalui pendapatan minyak dan gas. Dana tersebut dirancang untuk menampung surplus pendapatan dari sektor minyak dan gas serta memastikan keberlanjutan fiskal jangka panjang negara. Pada awal 2025, dana tersebut telah mengumpulkan pendapatan sekitar US$25,25 miliar dan menghasilkan keuntungan investasi sekitar US$10,48 miliar.<\/p>\n<p>Inisiatif kebijakan penting lainnya adalah penyediaan perlindungan sosial bagi seluruh warga Timor-Leste, tanpa memandang status sosial, etnis, agama, atau kondisi ekonomi. Sejumlah program kesejahteraan sosial diluncurkan dengan tujuan mengurangi kemiskinan dan memenuhi hak-hak dasar warga negara. Program-program tersebut meliputi layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, bantuan bagi warga lanjut usia, serta program \u201cBolsa da M\u00e3e Jerasaun Foun\u201d, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.<\/p>\n<p>Akibatnya, sejak kemerdekaan, warga negara dapat hidup tanpa rasa takut. Meskipun kemiskinan masih meluas, seorang pemimpin muda bernama Jonathan mengungkapkan optimismenya terhadap masa depan.<\/p>\n<p>\u201cMengubah kemiskinan menjadi kemakmuran hanyalah masalah waktu,\u201d katanya. \u201cKami memiliki cadangan yang cukup yang telah ditabung dan diinvestasikan. Kami juga sedang mempersiapkan generasi muda kami untuk mengembangkan keterampilan, keahlian, dan jaringan global yang akan mereka butuhkan.\u201d<\/p>\n<p>Dia menambahkan: \u201cKami berharap kemerdekaan kami telah membawa kami ke jalan yang benar menuju kebebasan dari rasa takut. Langkah selanjutnya adalah melanjutkan perjuangan kami demi keadilan.\u201d<\/p>\n<p><em>Author: Juanda Djamal<\/em><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Timor-Leste gained independence on May 20, 2002, becoming a sovereign state free from colonial rule. The people of Timor-Leste endured a long struggle, first against Portuguese colonialism, which lasted for approximately 450 years (1519\u20131975). The struggle then continued against the invasion of the Republic of Indonesia in 1975. Timor-Leste ultimately achieved full independence following the referendum held on August 30, 1999. The people of Timor-Leste experienced years of hardship and uncertainty. In 2002, however, they finally attained freedom, independence, and full sovereignty. I, Juanda Djamal, have had the opportunity to visit Timor-Leste in 2024, 2025, and most recently in April 2026. My objective was to observe firsthand, assess, and learn about the feelings and attitudes of the Timorese people after living in independence for the past 25 years. Aceh and Timor-Leste share a similar history of armed conflict. Both regions pursued the right to self-determination, seeking dignity, identity, sovereignty, and the ability to govern themselves independently and fairly. However, the outcomes were different. Timor-Leste achieved full independence and established a new state. Aceh\u2019s struggle concluded with the political agreement reached in Helsinki on August 15, 2005, resulting in a special autonomy arrangement and a system of governance based on Law &hellip;<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":217,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[13,19],"tags":[32,29,31,30],"class_list":["post-216","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opinion","category-timor-leste","tag-freedom","tag-opinion","tag-peace","tag-timor-leste"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=216"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/216\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/217"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=216"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=216"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pamorte.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=216"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}